Tito Karnavian Meraih Kepercayaan Presiden Sebagai Calon Tunggal Kapolri Atas Prestasinya

TITO KARNAVIAN 1

Baru baru ini nama Tito Karnavian sedang banyak diperbincangkan. Mengapa tidak, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme ini melangkahi jendral bintang tiga lainnya yang berusia lebih tua dibandingkan dengan dirinya di dalam bursa calon Kapolri. Usia Tito terbilang cukup muda dibandingkan dengan yang lainnya. Ia masih memiliki karier yang cukup panjang, hingga dirinya pensiun di usia  58 tahun nanti. Namun, pada usianya yang terbilang cukup muda ini ia telah berhasil mendapatkan kepercayaan dari Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo sebagai satu-satuna calon Kapolri.

Tito telah melangkahi beberapa seniornya seperti Irwasum Komjen Dwi Prayitno, Wakapolri Komjen Budi Gunawan, Kabaharkam Komjen Putu Eko Bayuseno dan Kepala BNN Komjen Budi Waseso  yang mana mereka juga dicalonkan sebagai Kapolri.

Terpilihnya Tito sebagai calon tunggal Kapolri bukan karena tanpa alasan. Mantan kepala densus 88 Antiteror ini diketahui memiliki banyak prestasi dalam kariernya. Selama bertugas di kepolisian Tito mendapatkan promosi jabatan dan kenaikan karier.

Pada tahun 2001, Tito menjadi pemimpin Tim Kobra dalam penangkapan Tommy Soeharto. Tommy Soeharto ketika itu ditangkap karena pembunuhan hakim Agung Syafiudin. Yang mana karier Tito pada saat itu semakin melesat. Keberhasilannya menangkap Tommy diapresiasi dengan kenaikan pangkat dari Mayor menjadi Ajun Komisaris Besar.

Prestasi lainnya yaitu saat ia memimpin Densus 88 Polda Metro Jaya pada tahun 2005 silam. ketika itu, ia berhasl menangkap teroris dan kelompoknya yakni Azahari Husin, di Malang. Azahari diduga sebagai otak dari kasus bom Bali pada tahun 2002 dan 2005, serta jaringan lainnya. Setelah menangkap Azahari, Tito kembali naik jabatan menjadi Komisaris Besar. Tidak hanya itu, ia bersama dengan satuannya pun mendapatkan penghargaan dari Kapolri.

Selain iitu, pencapaian lainnya yang berhasil dilakukan oleh Tito ketika ia berada di Densus 88 yaitu membuka siapa saja orang yang berada di balik konflik Poso. Ketika itu ia bersama dengan timnya telah menangkap puluhan tersangka yang pada tahun 2007 silam orang orang tersebut masuk ke dalam daftar pencarian orang. Karena pencapaiannya tersebut Tito diberi penghargaan yakni memimpin operasi antiteror yang dilakukan di daerah konflik Poso. Pada tahun berikutnya, Tito kemudian menulis dan mengeluarkan buku dengan judul Indonesian Top Secret: Membongkar Konflik Poso.

Dalam bidang terorisme Tito kembali mendapatkan prestasi, yang mana ketika itu ia bergabung dalam penumpasan jaringan terorisme, jaringan tersebut dipimpin oleh Noordin Mohamad Top pada tahun 2009. Noordin masih memiliki hubungan dengan jaringan Azahari yang sebelumnya pernah Tito tangkap.

Tidak lama dari itu, Tito mendapatkan promosi jabatan sebagai Kepala Densus 88 Antiteror Polri dan ia juga mendapatkan kenaikan pangkat Komisaris Besar menjadi Brigadir Jenderal.

Ketika Tito menjabat sebagai kapolda Metro Jaya, ketika itu tito telah berhasil dalam melumpuhkan serangan bom yang terjadi di jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Ketika itu keadaan kembali pulih cukup singkat, dalam waktu sekitar 20 sampai 25 menit para pelaku berhasil ditembak mati. Karena prestasinya tersebut Presiden jokowi  kemudian mengangkat Tito sebagai Kepala BNPT. Pangkat Tito kembali naik dari Inspektur Jenderal ke Komisaris Jenderal.

Di sekolah kepolisian Tito menjadi lulusan terbaik Akpol pada tahun 1987, ia menerima penghargaan Adhi Makayasa. Kemudian, Tito menyelesaikan pendidikan di Inggris, di University of Exeter pada tahun 1993. Ia pada saat itu telah berhasil meraih MA. Ia kembali melanjutkan pendidikannya di PTIK atau Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian pada tahun 1996 di Jakarta. Ia meraih gelar S-1. Di PTIK sendiri Tito kembali menjadi lulusan terbaik.

Leave a Reply