Duka Mendalam, Berikut 4 Fakta Gempa dan Tsunami Palu

Serangkaian gempa bumi yang menyerang Palu pada Jumat (29/09/2018) dengan magnitudo hingga 7.4 sontak melahirkan duka dan kepanikan yang mendalam. Betapa tidak, gempa yang disertai dengan tsunami ini belakangan menjadi berita duka yang semakin hari semakin menuai sedih yang besar.

Berbagai bangunan, seperti rumah warga, pusat perbelanjaan, rumah sakit, hotel dan bangunan lainnya mengalami rusak parah dan sebagian diantaranya ambruk tersapu gelombang yang besar.

Mengutip dari kompas.com, ada ratusan orang menjadi korban dan meninggal dunia pada bencana alam yang satu ini. Masih banyak korban hilang yang tak kunjung ditemukan. Dari data yang disampaikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis fakta terbaru dari gempa dan tsunami yang terjadi di Sulawesi Tengah ini.

Korban Meninggal Mencapai 832 Jiwa

Dari data yang disampaikan oleh BNPB hingga sabtu (29/09/2018) menunjukan bahwa dari angka tiga ratusan korban jiwa. Jumlah korban tewas akibat goncangan gempa dan gelombang tsunami yang terjadi di Palu dan sekitarnya sudah mencapai 832 jiwa.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyatakan bahwa jumlah korban tersebut kemungkinan masih akan terus bertambah seiring dengan pencarian dan evakuasi yang terus dilakukan oleh timnya.

Tanah Bergerak Seolah Menelan Segala yang Diatasnya

Tak hanya goncangan gempa dan gelombang tsunami yang menyeramkan. Belakangan sebuah video yang menunjukan munculnya lumpur yang mengalir dibawah rumah warga pasca terjadi gempa yang mengguncang wilayah Palu ini mulai viral di media sosial.

Dalam video singkat tersebut mempelihatkan betapa rumah dan pepohonan yang ada dijalanan seolah lenyap dan hanyut dalam waktu yang cukup singkat. Adapun penjelasan yang didapatkan dari ketua BNPB menyatakan bahwa fenomena tersebut dikenal dengan fenomena likuifaksi.

Melihat adanya fenomena semacam ini masyarakat diminta berhati-hati dan segera menjauh dari daerah yang terkena dengan likuifaksi sebab daerah tersebut akan pula memicu terjadinya longsor yang berbahaya.

Hotel Roa Roa, Rumah Sakit dan Mal Tatura Ambruk

Dahsyatnya bencana alam gempa bumi dan tsunami yang mengguncang Palu dan sekitarnya mengakibatkan pusat perbelanjaan terbesar di Kota Palu, yakni Mal Tatura di Jalan Emy Saelan ambruk dan lumpuh total.

Parahnya lagi, ketika bangunan tersebut runtuh masih ada puluhan bahkan ratusan orang yang terjebak didalam geduh berlantai empat yang dibangun pada tahun 2006 silam itu.

Hal serupa pun terjadi dengan Hotel Roa-Roa yang ada di Jalan Patimura. Hotel berlantai delapan ini hampir rata dengan tanah. Didalam hotel dengan kapasitas 80 kamar tersebut, 76 diantaranya masih terisi dengan tamu dan kini mereka masih terjebak didalam reruntuhan hotel berharap bisa segera dievakuasi.

Selain dua bangunan besar tersebut, Rumah Sakit Anutapura berlantai empat yang ada di Jalan Kangkung Kamonji, Kota Palu pun ikut hancur. Diperkirakan masih banyak korban yang tertimbun dengan reruntuhan gedung rumah sakit.

Warga Berebut Makanan dan BBM

Rebutan bahan makanan di sejumlah minimarket belakangan menjadi topik yang hangat. Banyak warga berebut bahan pangan dan BBM pasca gempa terjadi.

Warga mengaku terpaksa harus berebut makanan yang mereka ambil dari minimarket karena tidak ada lagi makanan untuk mereka bisa bertahan hidup. Bantuan dari posko pun belum sampai ke tempat mereka. Sehingga berebut bahan makanan menjadi keharusan agar mereka bisa bertahan.

Leave a Reply