Kenangan Sedih Dibalik Senandung Rindu Dari Alat Musik yang Dimainkan Si Kakek

Cinta itu terus berkembang dan tumbuh menjadi sebuah perasaan yang dalam yang tak akan pernah redup dengan segala kegelapan dan kesusahan yang terjadi.

Cinta itu, tidak akan pernah padam jika hanya terpaan angin yang menyerang, bahkan sekalipun badai mencoba mendatangkan kegelapan dan membuat rasa cinta itu menghilang dari tempatnya. Cinta itu terus tumbuh dengan atau tanpa sang cinta yang masih ada dan menemaninya menghabiskan sisa hidup. Bukan tidak ingin sang cinta menemaninya untuk menghabiskan masa rentanya di gubuk tua, namun rupanya alam telah memanggilnya lebih dulu yang membuatnya kini tinggalah sebuah kenangan indah yang akan selalu di kenangnya sebagai satu masa kehidupan yang tak pernah ia lupakan.

Inilah kiranya yang terjadi dengan seorang pria dalam video kali ini. Pria dalam video kali ini adalah seorang pria tua renta yang hidup disebuah perkampungan yang begitu tergambar kesulitan didalamnya. Dalam kisah ini si kakek diceritakan hidup seorang diri tanpa kehadiran keluarga, anak, cucu, atau bahkan sanak saudaranya. Si kakek hanya mendiami sebuah gubuk tua yang menjadi saksi bisu bagaimana kehidupan yang sepi ia jalani sehari-harinya. Namun uniknya, hampir setiap hari si kakek terus membuatkan sup yang ia masak dengan susah payah dan usaha sendirinya.

Setiap pagi pula ia selalu berangkat dengan sup yang ia masukan dalam sebuah termos kecil yang selalu ia selendangkan di pinggang kirinya. Dan rupanya, sudah selama 30 tahun ini si kakek melakukan hal ini. Setiap hari ia menaiki sebuah bukit dan mengantarkan sup itu untuk seseorang. Sesampainya disana, sup tersebut dihidangkannya dengan perlahan dan duduklah ia dengan beralaskan tanah bukit yang begitu sejuk dengan matahari yang mulai menyinari. Dikeluarkanya sebuah alat musik dan lekaslah ia bermain dengan alat musik tersebut. Dengan merdu dan seolah sendu, lagu tersebut disenandungkan lewat alat musiknya, dengan begitu penuh pengkhayatan si kakek terus memainkan alat musik tersebut.

Dan rupanya, bubur yang ia hidangkan dan alat musik yang ia senandungkan dipersembahkanya untuk seseorang yang telah tiada yakni istrinya. Bukit tersebut adalah tempat peristirahatan terakhir sang istri yang sudah 30 tahun ini meninggal.

Disana juga tempat si kakek dan sang istri biasa beristirahat dan tempat dimana kenangan indah terukir diantara keduanya. Sudah menjadi kebiasaanya untuk selalu menyenangdungkan alat musik kesayangannya hingga akhirnya sang istri meninggalkannya. Bukan karena ingin dikasihi atau mencoba menarik perhatian orang lain.

Baginya mencintai sang istri bukan lagi sebuah keharusan melainkan sebuah tanggung jawab dan kebiasaan yang jika tidak ia lakukan maka kehidupannya akan terasa hampa. Meskipun kini ia hanya seorang diri, kasih dan saangnya pada sang istri tercinta tidak akan pernah pudar atau sirna hanya karena sang istri sudah tak lagi ada disampingnya. Cinta dan kasih sayang akan senantiasa ada dan terus tercurahkan untuk sang istri tercinta sampai kapanpun.
Bagaimana harunya kisah cinta si kakek pada sang istri yang sudah tiada? Yuk,,, Kita simak kisahnya berikut ini.

Seberapa besar anda menyayangi orang yang anda cintai? Berikan komentar anda tentang video ini dan jangan lupa untuk bagikan pula kisah kali ini agar oranglain bisa menyaksikan harunya kisah ini.

x
Rekomendasi Artikel
x
Selamat Datang di KETAHUI.COM

Sebelum Melanjutkan, Klik LIKE, dan dapatkan update info menarik dan unik dari kami via Facebook